 | Assalamu'alaikum! | Aug 27, 2008 |
Assalamu’alaikum.. haloo kenalkan nama panggilanku Gita, arti namaku yaitu merupakan gabungan dari nama orang tuaku. Re-itu artinya Reni (Ibuku) Git-itu artinya Sigit (Bapakku). Aku lahir pada bulan Ramadan tepatnya 15 ramadan makanya nama tengahku Ramadania, kata Bapak, pas Ibu dianter Bapak ke rumah sakit untuk melahirkan aku saat itu malam hari yang cahaya bulannya teraaang banget. Kalo Setyawan itu nama bapakku juga, kelak kalau aku punya dedek nama belakangnya pasti sama dengan nama belakangku. Oya, Aku dilahirkan dengan normal pada tanggal 27 September 2007 dengan berat 3.00 kg panjangku saat itu 49 centimeter. Aku adalah anak cucu pertama dari keluarga Drajat Soehardo (eyang akung-ku) dan cucu paling akhir dari keluarga Padmo Wiyono (Mbah Kung-ku) Semuanya sayang sama aku.. kata orang aku nggemesin karena aku ndut dan lucu.. Oya salam buat tante yayuk dan tante Intan yang lagi sibuk kuliah semoga cepet pinter yah..

foto: www.gdargaud.netTanggal 27 September nanti Regita genap berumur 1 tahun. Bapak bingung musti bikin apa pada acara ulang tahun itu. Yang ada difikiran bapak yaitu, pesta yang meriah, kue ulang tahun yang besar, balon, badut, dan hadiah ulang tahun. Repot juga nih, apa ya kira-kira tema ulang tahun Regita nanti? Bapak jauh hari sudah terobsesi dengan ulang tahun pertamanya Regita. Dia merasa terpanggil sebagai single event organizer untuk mengatur semua persiapan acara tersebut. Hal pertama yang bapak pikirkan adalah bagaimana membuat kartu undangan pesta ulang tahun. Browsing-browsing di Internet dan baca majalah untuk mencari model yang pas. Belum lagi cenderamata yang akan dibagikan kepada tamu undangan, snack, makanan, konsep acara dan masih banyak hal lainnya yang terus dipikirkan bapak. Terbayang sudah jumlah uang yang akan dikeluarkan. Hm.. Lumayan juga. Pusing, capek dan bingung, apalagi saat puasa siang-siang begini bapak semakin ruwet, keliatan dari bibirnya yang manyun. Tapi rupanya bapak tetap rajin mendata persiapan menjelang ulang tahun anaknya. Bertekad untuk membuat acara tersebut paling bersejarah di tengah keluarga. Nampaknya perhitungan biaya tidak menjadi masalah besar, walaupun jumlahnya cukup besar. Semuanya bisa dibeli, wah gawat! Naluri Boros bapak tersulut. Setelah berdiskusi lama dengan ibu, bapak termanyun garuk-garuk kepala. Dan kadang sesekali mengelus-elus jenggotnya yang sudah mulai berantakan. "Bener juga, mubazir banget kalo kaya gitu" gumamnya. "trus gimana dong bu?" tanya bapak setengah menghela nafas. Yang ditanya hanya mengernyitkan dahi.. "Ibu ndak begitu suka dengan konsep acara kaya gitu, lebih baik buat ta'jilan aja buat rame-rame" melihat bapak yang manggut-manggut, kayaknya usul itu akan dipertimbangkan. Sepertinya Bapak sudah lupa dan tidak sadar. Ya, bahkan semua orang tua yang hendak merayakan ulang tahun pertama atas kelahiran putra-putrinya tidak sadar. Lupa bahwa dalam usia segitu, anaknya mana bisa ngerti arti kemeriahan pesta tersebut. Benar tidak? Setiap ulang tahun pertama seringkali dijadikan momentum bagi orang tua untuk bersyukur merayakannya. Tetapi terkadang orang tua terlalu berlebihan. Lalu untuk apa semua kemeriahan pesta ulang tahun bila yang diselametin aja nggak ngerti? Barangkali kalau sudah besar anak itu bisa di berikan pemahaman bagaimana harus berbagi syukur dengan tetangga, teman dan saudara. Agaknya kemeriahan pesta itu lebih merepresentasikan obsesi orang tuanya. Apalagi bapak, wuis..paling terobsesi banget! Ya sudah, akhirnya bapak mereset ulang konsep acara ulang tahun Regita. Ibu usul agar lebih baik menjadikan momentum ulang tahun pertama ini sebagai awal dari pembentukan Budi pekerti, kepedulian dengan sesama dan syukur kepada Alloh SWT. Jadinya kaya gimana tuh acaranya? Idenya Insya Alloh sudah disepakati bersama bahwa ulang tahun pertama Regita biasa saja. Kita akan berbagi dengan lingkungan sekitar dengan menyediakan menu buka puasa dan solat berjamaah. Membagikan ta'jil kepada om-om tukang ojek dan tukang becak. Dalam kesederhanaan tanpa Badut, baju bertopi dan bertopeng. Tapi balon bolehlah satu dua.. Hi..hi.. Jadi ngirit nih..
Kami bertiga adalah sahabat kental. Saking akrabnya orang-orang menjuluki kami trio bandel . Tak mau kalah dengan Trio-trio yang lainnya. Kami memiliki ciri khas yaitu sama-sama bandel. Kok bangga ya disebut bandel. Eits, jangan salah. Walau bandel kami ini sangat dermawan, kami rela pipi kami di kecup setiap orang yang gemes memandang. Terbayang kan berapa 'cap' lipstick dan kumis setiap hari nemplok di pipi tembem kami? Ya sudahlah, itu sudah kodrat kami.
Oya, kenalkan nama-nama kami, yang paling kanan berdiri gagah itu namanya Ardan, dia akrab dikenal sebagai pengingat sandal. Jangan coba-coba berlalu didepannya tanpa alas kaki, atau dia akan meneriaki, "Sandalnya Mana?!" sambil menunjuk-nunjuk jempol kaki anda. Sebagai anggota kami sudah kebal dengan Omelannya itu. Duduk manis diatas stroller itu adalah saya, cewek paling cantik, imut tapi tak kalah bandel. Saya memiliki jeritan khas Tarzan bila melihat kawanan Meong atau seekor Cicak. Meong-meong di komplek ini pasti lari terbirit-birit sebelum melihat saya menjerit. Habis aku gemes banget sama hewan itu . Nah yang paling kiri jongkok dengan tangan mencakar itu namanya Sammy, dia suka meniru gaya-gaya artis, terakhir Trio Macan. Saya dan Ardan padahal paling ga suka dengan tiga orang yang mengaku macan di televisi itu. Sama sekali nggak mirip!. Menurutku lebih mirip ulet bulu.. 
Kami bertiga saling tergantung satu sama lain, bila dalam sehari tidak bertemu hidup ini terasa hampa. Tapi diantara kami bertiga yang paling tidak bisa menahan untuk bertemu satu sama lain adalah Ardan, dalam sehari Ardan bisa berkunjung kerumahku tiga kali, pagi, siang dan sore. Persis seperti jadwal minum obat. Aku sih pede aja, lagian aku kan cewek jadi wajar bila dapat kunjungan rutin. Sammy kadang lebih asyik dengan bermain bola. Tendangannya dinilai berbakat oleh Bapaknya. Saking hebatnya Ada 4 bola masih nangkring diatas genteng tetangga. Rekor yang sangat boros mengingat usianya yang baru 2 tahun. Untuk urusan hoby Ardan agaknya lebih cenderung menyukai dunia otomotif. Dia memiliki dua mini motor, dan dua mobil. Terakhir sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke dua, Mamanya membelikan lagi Mobil bertenaga listrik. Tapi belum selesai di Charger, dia sudah ngibrit ke rumahku dengan mobil barunya itu. Mengajak aku berdua menaikinya bersama. Hari itu tumben sekali dia tidak pelit. Sore itu kian meredup, sayup-sayup orang mengaji terdengar di masjid Al-Azom, Sammy dan Ardan sudah berpamitan pulang kerumah masing-masing. Aku masih duduk manis diatas stroller itu. Menunggu ibu pulang dari kantor. "Ibu cepat pulang dong...
Sering melihat tayangan iklan ini wara-wiri di televisi setiap hari? Gile bener.. berapa duit aja tuh dibuang buat bikin iklan itu. Pernah mendengar berapa milyar dikeluarkan untuk biaya iklan itu? Milyaran! pasti cukup untuk buat ta'jilan buka puasa se kabupaten. Seperti 'mengiklankan' diri sendiri atau self selling gitu ya. Yah.. Walaupun sempat dibantah sebagi iklan jualan diri, tapi tetap saja pesan tersembunyi itu secara gamblang terbaca. Mungkin karena bangsa ini sedang menyambut hajatan politik luar biasa *pemilu dan pilpres*. Makanya ga heran kalau kita sering menjumpai "wajah-wajah antah berantah" tidak dikenal tau-tau minta didoakan jadi orang penting di negeri ini. Ya, seperti saat kita berhenti di pinggiran pasar Senen, "Dipilih! Dipilih! Seribu tiga! Seribu tiga! Sambil menarik baju menawarkan *sok akrab. Habis gimana ya, seakan-akan negeri ini benar-benar ga peduli dengan bagaimana membedakan jabatan sebagai Amanah dan jabatan ladang mencari duit. Lagian kenapa juga banyak artis ngetop ikut-ikutan pindah jalur. Ujug-ujug dapet caleg nomor urut wahid.. Weleh-weleh.. Kasian rakyat kecil semakin bingung menentukan siapa pemimpinnya. Sebagai seorang bapak saya kebingungan bagaimana menjelaskan apa maksud fenomena ini kepada anak saya. Semakin frustasi karena saat ini jabatan yang seharusnya Amanah itu dikomersilkan. Tidak hanya artis, para pengusaha pun seolah tidak PD dengan profesinya sendiri. Sampai harus ada yang benar-benar Gila untuk mengejar jabatan itu. Hidup bukan hanya sekedar perbuatan, tapi juga harus diawali dengan niat suci, dan diakhiri dengan tanggung jawab. Catatan foto: Regita sempat terekam kamera bapak saat terbengong-bengong ngliatin Meong pada sore hari yang cerah.. Langit biru.. Bright sunset.. Posenya pas banget, gak kalah gaya dengan iklan itu.. Attachment: Hidup adalah Perbuatan copy.jpg
Sejak menghuni rumah "baru". Kami memiliki musuh bebuyutan. Oleh bapak dijadikan hoby baru yaitu "bertarung" dengan mereka. Saking sengitnya pertarungan dalam semalam bapak bisa mengumpulkan jasad nyamuk hingga ratusan. Katanya itu jumlah yang sangat sedikit untuk pertempuran malam itu. Ya, rumah baru itu kami pilih karena berada persis diujung gang, berbatasan dengan sawah, dan saluran irigasi. Belakangan ini petani sawah itu membendung saluran irigasi untuk menyirami pohon terong dan tomat mereka. Sejak saat itu pula musuh-musuh kami berbondong-bondong menyerbu kedalam rumah. Kami memilih untuk tidak menggunakan pestisida atau "senjata kimiawi" lainnya untuk bertarung dengan mereka. Kami tidak ingin seperti Amerika ketika melawan Iraq, yang membunuh membabi buta. Kami juga tidak ingin "mengalah" dengan meracuni kulit kami dengan lotion anti nyamuk. Kami lebih memilih dengan raket nyamuk atau tangan kosong saja, tapi raket nyamuk "lebih menyenangkan" dari pada yang lainnya. Bapak seakan menikmati setiap lawan yang menjerit terperangkap di dalam raket. Bahkan ibu menjuluki bapak sebagai phsycopat masquitos killer. Ibu akhirnya keberatan kalau bapak menggunakan senjata itu. Bapak membela diri dengan mengatakan Amerika lebih kejam ketika membantai warga Iraq dengan bom tandannya. Pasalnya ibu pernah mendengar ustadz pengajian melarang kita membunuh hewan dengan cara "membakar". Karena hanya Alloh saja yang berhak membakar. Menggunakan raket penyetrum nyamuk sama saja dengan membakarnya bukan? Ah, ibu ini terlalu perhatian dengan nyamuk itu. Mungkin dia lupa bahwa malam-malam yang dia lalui dengan nyenyak itu tak lepas dari "penjagaan" bapak dengan raket nyamuknya. Tapi nasihat ibu ternyata sempat terpikir dalam benak bapak, sebegitu kejamkah bapak selama ini? Apalagi saat itu ibu tengah mengandung. Wow semakin "jiper" saja bapak dengan karma dan kutukan para nyamuk bersaudara yang tidak terima. Bapak takut kalau-kalau janin yang dikandungnya terkena imbas dari pertarungan (berdarah)ini. Sejak saat itu bapak beralih dengan tangan kosong atau memilih mengusir nyamuk-nyamuk itu dengan baik-baik. Bahkan bapak berakting seperti Nabi Sulaiman berbicara dengan kawanan nyamuk yang membandel tidak mau keluar kamar. Mungkin bapak sempat mengancam, bila tidak ingin diganggu jangan mengganggu. 9 bulan berlalu, ketabahan bapak tidak membuahkan hasil. Setiap bangun pagi sering kami dapati nyamuk-nyamuk kekenyangan sampai tidak mampu terbang lagi dengan perut gendut memerah. Nah saat itu ibu membolehkan bapak untuk me-Terminated-nya. Kata orang betawi, "elo jual guwe beli". Tembok kamar tidur menjadi saksi bisu betapa sengit pertarungan ini. Lukisan abstrak dari darah dan jasad nyamuk yang mengering di tembok seakan tidak menyurutkan semangat nyamuk-nyamuk itu menyerang kami. Suasana malam semakin tegang terlebih ketika anak pertama kami sudah lahir, "tak kan kubiarkan secuilpun kulit halusmu terjamah nyamuk itu nak!" bapak menabuh genderang perang jilid dua. Ibu seakan tidak bisa berkata apa-apa melihat kebringasan bapak memberangus nyamuk-nyamuk malang itu. Bapak tidak ingat lagi dengan nasihat ibu tentang larangan membakar hewan. Semuanya tidak berarti selain menyelamatkan kulit Regita dari hisapan maut nyamuk itu. Tak terhitung lagi jumlah korban nyamuk. "Grafiti" darah di tembok kamar semakin bertambah, menambah kusam warna putih tembok kamar itu. Melukiskan betapa bapak menikmati saat-saat menggilas nyamuk gendut memerah ke tembok. Sampai pada suatu waktu kegemaran ibu membaca majalah bayi (M&B) membawa kami kedalam suasana "gencatan senjata". Ibu menemukan sebuah kojong raksasa yang dapat menutupi kami bertiga. Tempat tidur kami yang ukuran king tidak menjadi masalah bagi kojong ajaib ini. Tingginya cukup untuk bapak dapat berdiri dengan lututnya menina bobokkan Regita. Bahkan bapak masih bisa sedikit meluruskan kaki panjangnya walaupun sedikit mengenai dinding kojong yang lembut. Kojong ini ajaib karena dapat berdiri sendiri tanpa penopang apapun. Satu-satunya alat penopang adalah kerangka kojong itu sendiri. Nah hebatnya kerangka itu terbuat dari baja elastis yang dapat ditekuk sampai 4 kali tekukan tanpa merusak strukturnya. Bapak teringat "mobil kapsul"-nya Burma dalam film Dragon Ball. Yah, mirip itulah. Sejak saat itu selesailah sudah pertarungan itu, sejak saat itu pula kami katakan stop killing nyamuk! kami sadar mereka terpaksa menyerbu rumah kami karena rumah kamilah satu-satunya rumah bersahabat tanpa pestisida tanpa obat nyamuk. Sehingga mereka bisa sedikit mencuri darah kami. Kini nyamuk-nyamuk itu semakin frustasi melihat kami dari balik luar kojong dan mencari-cari celah untuk bisa masuk ke dalam. Bapak sangat puas dengan "benteng" itu dia sempat meledek serangga itu, persis seperti anak kecil. Kini raket nyamuk itu sudah jarang digunakan, baterei-nya sudah habis. Bapak sudah lama menyingkirkannya. Attachment: gambar kojong.jpg
suara kucing yang kudapat dari Handphone bapak.. hi.hi.. lucu banget aku sukka!
Link: http://regitaramadania.blogspot.com/ini blog-ku yang lama, aga ribet ya? kata teman2 ibu, mereka mau ngasih koment susah banget, mungkin setingannya ga bisa kali ya.. waduh bapak gimana sih??
| Start: | Aug 31, '08 | | End: | Oct 1, '08 | | Location: | all over the world |
Sebentar lagi bulan Ramadhan tiba, artinya sebentar lagi aku akan ulang tahun yang pertama! Horee.. kejutan apa ya, yang akan aku terima? siip.. pokoknya aku akan berdoa sama Alloh karena aku sudah diberikan kesehatan selama ini.. Alhamdulillah ya Alloh..
Minggu kemarin tepat tanggal 27 September 2008, Regita sudah genap berumur 7 bulan, menurut Eyang, dulu Ibu juga dibuatkan acara serupa ketika berumur 7 bulan. Kali ini giliran Regita, eh.. ngomong-ngomong buat apa ya acara turun tanah itu? Nah.. kata Eyang kalo orang Jawa itu setiap bayi berumur 7 bulan sebaiknya dibuatkan acara turun tanah tujuannya biar si bayi kelak dapat mudah menyesuaikan dengan kehidupan duniawi yang akan dilaluinya. Banyak simbol-simbol di dalam acara tersebut yang menyiratkan arti bagaimana si bayi kelak dibekali agar dapat menghadapi jalan hidupnya. Wah… mulia ya tujuannya.. semoga Regita menjadi anak yang kuat dan mampu menjawab segala tantangan hidupnya kelak.. Amiin.. Oke.. ini foto waktu Regita di masukkan kedalam kurungan ayam.. maksudnya, sebagai perlambang semoga kelak dilindungi oleh Alloh SWT terus. Attachment: DSC_1831.JPG
aku menjerit kesal karena minta handphone bapak tapi ngga dikasih, bapak memang iseng yah..
Download this and other original video files with Multiply Premium.
|  | Pas Ibu sedang pilek-pileknya, aku dibelikan pita, ternyata aku agak keliatan culun dengan pita ini.. Bapak paling ga suka aku dipakein pita ini, tapi Ibu ngotot.. hemm mana yang bener sih??
Kali ini Ibu yang iseng.. ditengah-tengah gelak tawaku lelah bercanda, Ibu seketika mengambil bantal "peang" favoritku.. jadilah topi ku ini. Kata tante Yayu sama tante Intan, bantalku ini "nguk-nguk enak" kalau dicium.. he..he.. hayo sapa mau coba cium??
Pagi hari saat aku mau mandi aku dipakein topi celana sama Bapak. emang iseng banget yah bapak? tapi kata Ibu wajahku jadi makin lucu.. |
|  | Lagi-lagi tebu sekarang susah nyarinya.. tapi akhirnya Eyang dapat minta orang yang punya tanaman ini di samping pekarangan rumahnya. makasih buat eyang dan tante Intan yang sibuk muter-muter nyari Tebu ini
Ternyata mencari kurungan ayam didaerahku sulit juga, Bapak sempat pusing muter-muter pasar 3 kali loh, akhirnya ada tukang becak baek hati memberi tahu bahwa didaerah Jatiuwung banyak yang piara ayam.. Alhamdulillah dapet juga deh, tapi bukan seken loh..
Pagi hari aku masih seger, Sebelum acara Turun Tanah dimulai, Ibu pengen mejeng dulu sambil nunggu Om, Tante, Budhe dan Pa'dhe.. |
|  | Minggu kemarin tepat tanggal 27 September 2008, Regita sudah genap berumur 7 bulan, menurut Eyang, dulu Ibu juga dibuatkan acara serupa ketika berumur 7 bulan. Kali ini giliran Regita, eh.. ngomong-ngomong buat apa ya acara turun tanah itu? Nah.. kata Eyang kalo orang Jawa itu setiap bayi berumur 7 bulan sebaiknya dibuatkan acara turun tanah tujuannya biar si bayi kelak dapat mudah menyesuaikan dengan kehidupan duniawi yang akan dilaluinya. Banyak simbol-simbol di dalam acara tersebut yang menyiratkan arti bagaimana si bayi kelak dibekali agar dapat menghadapi jalan hidupnya. Wah… mulia ya tujuannya.. semoga Regita menjadi anak yang kuat dan mampu menjawab segala tantangan hidupnya kelak.. Amiin.. Oke.. ini foto waktu Regita di masukkan kedalam kurungan ayam.. maksudnya, sebagai perlambang semoga kelak dilindungi oleh Alloh SWT terus. |
|  | ini adalah foto-fotoku dan keluargaku. |
 | Guestbook | |
 | salam kenal... ^_^  |
 | hahayyyy,, allow gita,lucu bgt sih kamyu,pasti mirip ibu-nya d,, ^_^ ayo2 diramein lagi,bguuuus bget nih,psti jd "kenangan terindah" bt gita in d future, bravo d bapak & ibu nya :)
|
 | Makasih kak Kiela, wah... nyam..nyammm manisnya coklatnya... O iya minal aidin ya... |
 | halo dek gita walau udah telat ultahnya kak kiela ucapin met ultah ya... selamat lebaran juga hehe borongan... MyNiceSpace.com |
 | Hallo juga Kak Akiela.. wah manjat?? tapi bukan pohon Tomat kan? he.he. Regita belum bisa manjat kak, baru juga rambatan.. ajarin ya... |
 | Hallo regita... salam dari aku hehe Kamu udah bisa manjat kayak aku enggak? Kalo belum nanti aku ajarin ya... |
 | oke regita ditunggu kabarnya lagi ya?
|
 | oke regita kita tunggu lagi ya kabarnya... |
| |